(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"

Mother of the Martyrs - A Teartul Story 

(A true story told by an lraqi mother about the second war in Falujjah) 

Ibunda para Syuhada, Kisah nan Pilu 

(Sebuah kisah nyata dari seorang Ibu dari lraq tentang Perang Falujjah kedua) 

Pengalih bahasa Arab - Inggris: Ummu Hazbar Al-Mouwahidah hatidhohalloh 

Penterjemah Al-Ukht As-Syifa hatidhohalloh 

Editing: Tim Maktabah Jahizuna hatidhohumulloh 

Sumber: Forum Islam At-Tawbah 

Publikasi: Maktabah Jahizuna 



Semoga Allah merahmati anak-anakmu wahai ibu... 
Ummu Asy-Syuhada dan kenangannya tentang Falujjah, 



Akhirnya, sekelompok ***** bertemu 
dengan Hajjah "Z.M" yang telah 
dikenal sebagai ibunda para syuhada 
dikarenakan andilnya di perang 
Falujjah kedua. 

Setelah menempuh waktu dua bulan 
pencarian... Tidak ada seorang pun 
yang tertinggal kecuali pasti kami 
tanyakan tentang Ummu Asy- 
Syuhada namun jawaban yang kami 
dapatkan simpang siur. Ada yang 
mengatakan ia telah menghilang atau 
meninggal. Intormasi lain 
menyebutkan ia telah pergi menuju 
sebuah perkampungan dipinggir 
Falujjah untuk melihat anak 
perempuannya. 

Ummu Asy-Syuhada, umurnya 62 tahun, ibu dari tiga perwira Islam; Ahmed, Muheeb dan 
Umar. Putra-putra itu semua telah syahid (Insha Allah) dalam perang kedua di Falujjah. 

la tinggal seorang diri di sebuah rumah mungil di Falujjah menghabiskan umurnya dengan 
bekerja bercucuran keringat - meskipun di usianya yang senja - membuat beberapa sapu 
untuk kemudian dijual di daerah-daerah sekitar. la menolak semua bantuan yang diberikan 
padanya baik dari pedangan dan orang kaya di Falujjah. la juga dikenal sebagai seorang 
yang doanya senantiasa terkabul. Anda akan menemukan orang-orang mengunjunginya 
untuk memintanya mendoakan mereka setiap harinya. Banyak dari mereka adalah wanita 
yang akan melahirkan atau mereka yang akan pergi bersatar, sakit dan bahkan ada pula 




para mujahidin. Para mujahidin itu datang padanya sebelum operasi dilakukan, memintanya 
untuk berdoa pada Allah agar menepatkan tembakan dan melindungi mereka. 

Kami menuju rumahnya dan ia sedang memperbaiki beberapa sapu di kebun. Kebunnya 
sempit namun asri dengan pohon palm nan hijau menghiasi serta lima ekor ayam yang setia 
menemaninya. 

"Assalamu'alaikum, wahai amah (bibi)!" 

"Walaikumussalam warahmatullaahi wabarakatuh. Ahlan anakku, masuklah!." 

Kami masuk kedalam rumah lalu duduk di permadani yang dibuat dari bulu domba. Ummu 
Asy-Syuhada melihat kamera dan buku catatan yang kami bawa, segera ia meletakkan apa 
yang ada di tangannya di sisi tubuhnya sembari berucap ramah: "Selamat datang anakku, 
apakah ada yang bisa saya bantu" 

"Amah, Kami dari *****, kami ingin mendengar tentang kisah Falujjah selama peperangan 
yang kedua dari anda jika tidak keberatan" 

Disini Ummu Asy-Syuhada memandang keheranan dan mengatakan : *****? Dari mana 
kalian berasal? Aku tidak pernah mendengar tentang nama itu di televisi" 

"Oh Ummi, itu adalah sebuah situs Islam di internet yang memperhatikan umat Muslim di 
lraq dan negari-negeri muslim lainnya" 

Ummu Asy-Syuhada tertawa dan mengatakan "l/l/a//a/7/anakku, aku tidak mengerti apa yang 
kau katakan. Bagaimanapun, aku persilahkan untuk bertanya dan aku akan menjawabmu 
Insha Allah" 

"Kami ingin anda bercerita tentang peperangan Falujjah yang kedua" 

Secara retlek sang wartawan segera memtokuskan lensa kamera ke arah Ummu Asy- 
Syuhada, bagaimanapun ia tidak berniat untuk merekam Ummu Asy-Syuhada. 

Sejurus Ummu Asy-Syuhada mengatakan "l/l/a//a/?/ anakku, aku tidak suka kamera ini. 
haram bagiku dan aku adalah ibumu, seorang wanita yang terjaga. Tidak peduli setua 
apapun aku, aku tetap seorang wanita dan aku tidak mengizinkan apa yang telah Allah 
larang untuk wanita". 

Hajjah Zakia Ummu Asy-Syuhada memulai menceritakan kisahnya: 

"Aku adalah seorang wanita tua di Falujjah yang percaya bahwa Allah adalah benar, 
sehingga Allah memberi cobaan pada hambanya yang perempuan dan laki-laki.... dan aku 
memohon dari-Nya semoga ia menerima agar aku dapat melewati cobaan melelahkan ini, 
demi Allah. 

Suamiku telah watat sepuluh tahun yang lalu, ia seorang suami yang sangat baik, semoga 
Allah merahmatinya. Aku dikaruniai tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. 
Mereka adalah Ahmad, Muheeb, Umar dan Khulood. Ahmad yang tertua, usianya tiga puluh 
lima tahun disusul Khulood, Muheeb dan si bungsu Umar. Suamiku dan aku mengabdikan 
diri kami untuk membesarkan mereka, memperhatikan mereka dan melihat pertumbuhan 
mereka. 

Ayah mereka -semoga Allah menempatkannya di Jannah - turun langsung mendidik sampai 
mereka dewasa hingga lulus kuliah. Mereka tetap menjaga kedekatan pada masjid sejak 
kecil hingga mereka meninggal. Mereka bergabung dengan kelompok mujahidin di Falujjah 



setelah berhenti bekerja. 

Kisah ini adalah kisah keluarga yang mengawali kisah Falujjah sehingga menjadi sebuah 
cerita yang panjang. Aku akan meringkas kisah ini karena aku sedang berpuasa dan aku 
pun memiliki banyak pekerjaan di rumah, terlebih ada orang-orang yang sudah membayarku 
untuk memperbaiki sapu-sapu mereka. 

Sepekan sebelum pertempuran kedua di Falujjah, aku bercengkrama dengan anak-anak 
laki-lakiku Ahmad, Muheeb dan Umar, semoga Allah merahmati mereka, di rumah tua kami 
di daerah Al-Shuhda'a (Asy-Syuhada -ed). Ketika itu sore hari, kami minum teh bersama- 
sama. Mereka sedang mencoba membujukku untuk pergi ke rumah saudari perempuan 
mereka di sebuah kampung di luar Falujjah. Mereka mengkhawatirkan keselamatanku 
karena pertempuran yang akan datang. Amerika, Syiah dan Kurdis, mereka bergabung 
seperti serangga mengepung empat gerbang Falujjah. 

Aku menolak usulan ini dan mereka, semoga Allah merahmati mereka, merengek padaku 
agar mau pergi, terutama Umar, yang terkecil di antara anak laki-lakiku. la mengatakan 
padaku: "Wahai ummi, tinggalkanlah Falujjah dan tinggalkan kami untuk bertempur 
sementara itu hati kami tenang akan dirimu. Pergilah, atau aku akan memaksa 
membawamu dengan mobil pickup". 

la membujukku, semoga Allah merahmatinya. Umar memiliki sifat periang dan semua 
teman-temannya mencintainya karena pancaran cahayanya. Bahkan ia memanggilku hajji 
bukan hajjah sembari berkata: "Keberaniamu adalah untuk pria bukan untuk wanita" 

Semua bujuk rayu mereka aku tolak mentah, aku katakan : "Aku akan tetap tinggal dan 
memasak untuk mu, untuk kelompokmu dan merawat lukamu. Aku tidak akan meninggalkan 
Falujjah selama kamu ada di dalamnya. Wallahi, aku tidak dapat meniggalkan hatiku di 
Falujjah dan pergi begitu saja" 

Melihat ketetapanku, mereka meniggalkan ku seorang diri, semoga Allah merahmati 
mereka, dan keputusan terakhir kami adalah kami tetap tinggal di Falujjah sampai akhir 
pertempuran, baik memperoleh kemenangan maupun kesyahidan. Alhamdulillah putera- 
puteraku mendapatkan salah satu yang kita harapkan, mencapai kesyahidan. 

Ahmad, Muheeb dan Umar, masing-masing mereka berada dalam kelompok yang berbeda 
dan mereka mendiskusikan di antara mereka sendiri tentang sebuah rencana untuk tetap 
menjaga komunikasi selama pertempuran. 

Aku mendengar percakapan mereka dengan sedih sebagaimana aku mengenang mereka 
ketika mereka masih kanak-kanak, bagaimana ayah mereka memegang mereka dan 
bermain dengan mereka, bagaimana mereka tumbuh, bagaimana mereka melewati bangku 
sekolah dan di akhiri bagaimana janggut dan kumis mereka tumbuh. 

Sampai-sampai aku mengenang masing-masing dari mereka bagaimana mereka 
merencanakan rencana pertama hidup mereka. Aku juga mengenang kegembiraanku saat 
hari pertama mereka melangkah, dan ketika gigi pertama mereka tumbuh dan aku 
mentahnikkan jari ku pada mereka untuk di kunyah dan kemudian tertawa pada mereka. 
Juga hari pertama mereka di sekolah dengan tas mungil mereka. 

Aku menangis dalam sepi, khawatir bercampur keraguan. Sebelumnya aku yakin bahwa 
mereka akan syahid dalam pertempuran. "Beritahu padaku, apa yang anda pikirkan jika 
semua anak-anakmu meninggal, maka apa yang akan kau lakukan?" 



Dengan kesedihan dan pilu ini, aku tetap berdoa pada Allah bahwa ia akan mengambil jiwa 
ku juga sehingga dukaku kan lenyap dan aku tidak merasakan lagi lara anak-anakku. 
Ummu Asy-Syuhada menitikkan air mata yang mengalir jatuh mengikuti keriput wajahnya, 
tangisan tanpa suara dan sejujurnya, kami pun menangis bersama. 

Tiba-tiba ia berdiri dan berkata lirih: "Permisi, aku mau melihat sup, aku khawatirgosong." 

Kami mengetahui ia tidak pergi ke dapur, kami mendengar tangisnya di sebuah ruangan 
dengan jendela yang menghadap kebun. Tangisan - yang berbeda dari tangisan perempuan 
yang meraung - doa datang dari wanita renta ini yang memanjatkan: 

"Allahuma yang Maha Merajai dan Mengurusi siapa saja orang yang datang padanya dan 
janganlah menolak mereka ataupun tidak mengabulkan permintaan mereka bahkan jika 
mereka dihukum untuk mati. Ya Allah dan Engkaulah Raja dari Segala Raja, aku berdiri di 
sini, di pintumu untuk memohon pada-Mu agar mengambil jiwaku karena kerinduanku pada 
putera-puteraku dan suamiku. Tidak satupun yang akan membuatku bertahan di kehidupan 
ini. Ya Allah, janganlah menolakku, seorang janda miskin yang semua puteranya telah tiada. 
Ya Allah yang Maha Menyanggupi, janganlah biarkankan aku ternggelam dalam kesedihan." 

Beberapa menit kemudian Ummu Asy-Syuhada kembali, matanya memerah karena tangis. 
la bersandar pada sebuah tongkat yang tidak ia gunakan ketika pertama kali tadi kami 
melihatnya dan seakan tubuhnya ambruk karena tangisan dan kelemahan. Dengan senang 
ia mengatakan: "Gas yang kami gunakan untuk kompor itu telah habis dalam satu hari. Aku 
yakin mereka menipu kita dan menjualnya kepada kita dengan harga yang tinggi. Semoga 
Allah memaafkan mereka". Wanita tua itu tidak mengetahui bahwa kami mendengar 
tangisan dan doanya. 

la melanjutkan kisahnya: "Pada tanggal 1 1 Juli 2004 terjadi pemboman sporadis dan intensit 
sebagai upaya untuk menembus benteng Falujjah dari utara. Mereka melemparkan bom- 
bom yang sangat menyala. Saat itu pukul sebelas malam, aku sedang sendirian dirumah 
dan aku memulai membaca apa yang aku hafal dari Al-Qur'an sampai aku menyelesaikan 
semua surat-surat pendek yang aku hafal. Kemudian aku bangun untuk berdoa pada Allah, 
yang pertama untuk kemenangan dan yang kedua agar ia melindungi putera-puteraku. Aku 
tidak tertidur malam itu, hingga waktu fajr. 

Aku merasa Umar berdiri di dekat kepalaku saat aku berada di atas sajadah. ia mengatakan 
padaku : "Oh ummi, aku melihatmu tidak tidur. Kami semua baik-baik saja dan aku bersama 
Muheeb dan Ahmad, mereka semua baik-baik saja dan mereka ingin engkau membuat 
cukup makanan dan teh untuk empat belas Mujahidin. Apa yang engkau pikirkan, tidakkah 
engkau menginginkan pahala?" 

Wallahi, aku sangat bahagia dengan tamu-tamuku sehingga dengan cepat pergi ke dapur 
dan menyiapkan makanan yang cukup untuk empat belas pria. Teh dan roti panas aku 
siapkan dengan cepat. 

Aku keluar dengannya dengan cepat ke pintu dan membantunya untuk membawakan 
makanan ke dalam mobil. ia mengatakan: "Oh ummi, makan siang ini atas mu, saudaraku 
Muheeb menjadi sukarelawan makan siang bagi Mujahidin Arab." 

Aku sholat Fajar dan berdoa pada Allah agar ia melindungi mereka semua. Sementara itu 
Falujjah masih tetap menjadi target serangan pesawat dan rudal Amerika. Setiap terjadi 
ledakan, atap diatas kepalaku seoalah-olah akan runtuh. Aku kembalikan kepada Allah 
dengan Doa dan Al-Qur'an. Aku akan menyiapkan makan siang untuk mereka. 




yang tinggi dan kekar semoga Allah merahmatinya. 



Muheeb datang dan mencium 
tanganku sebagaimana yang 
biasa ia lakukan. ia meminta 
padaku jika saudara-saudaranya 
datang, mereka harus bertemu 
dengannya, penting pesannya. 
Aku bertanya padanya tentang 
masalah itu dan ia menjawab 
"Ummi, hanya soal sederhana. 
Tak perlulah engkau risaukan." 

Segera ia berlalu. Pandangan 
mataku mengikutinya hingga ia 
jauh. Muheeb dikaruniai badan 



Hari berikutnya - dan aku telah memanggang lebih dari dua ratus roti sampai tanganku 
kelelahan menguleni adonan dan aku pun menyiapkan dua panci besar nasi dan rebusan - 
Anak-anakku semua datang dan tinggal denganku hingga jam satu malam. Aku menciumi 
mereka seolah-olah mereka masih kecil dan aku terus memandang mereka dengan erat 
seolah aku tahu bahwa aku tidak akan melihat mereka lagi setelah hari itu. 

Wallahi, aku tidak akan melupakan ciumanku atas mereka selama aku hidup. Ayah mereka 
wafat dan tidak ada satupun didunia ini yang menggantikannya kecuali anak-anak ini. 
Wallahi, aku mengenal satu persatu wangi mereka. Setelah satu jam mereka pergi bersama- 
sama sembari membawa makanan, mereka mencium kening dan tanganku dan 
mengatakan padaku : 

"Wahai ummi, berdoalah untuk kami karena Allah" 

Aku katakan pada mereka: "Mengapa engkau bersumpah atas nama Allah, aku selalu 
berdoa untukmu siang dan malam" 

Mereka menjawab: "Bukan untuk kami, tetapi untuk seluruh Falujjah" 

Mereka pergi dan aku tidak pernah melihat mereka kembali, selamanya... 

Falujjah melalui banyak malam dengan pertempuran sengit yang dapat membuat seseorang 
gila. Aku tidak mendengarkan apa-apa melainkan tangisan "Allahu Akbar", doa dari masjid, 
serangan dari mujahidin dan tembakan dari penjajah. Setiap hari aku duduk di ambang pintu 
rumah, jam demi jam melihat kearah jalan berharap kedatangan putera-puteraku. Aku akan 
bertanya kepada siapapun yang datang di jalan dan berlari kearah mereka: "Hei, Oh salah 
satu dari kalian, apakah anda melihat Ahmad, apakah anda melihat Muheeb, dan apakah 
anda melihat anakku Umar?" 

Ummu Asy-Syuhada kembali menangis. 

"Beberapa dari mereka mengatakan padaku bahwa mereka tidak mengenal anak-anakku 
dan yang lain mengatakan bahwa mereka tidak melihat. Hanya ada satu orang yang 
mengabarkan padaku "Ya ummi, Ahmad dan Umar mereka berada di daerah Al-Jumhooriya 
dan Muheeb berada di daerah An-Nizaal dan mereka dalam keadaan baik." 



Dia segera bergegas berlalu, aku berlari mengikutinya hingga tersandung dan terjatuh. 
Hidungku terantuk hingga berdarah. Aku memohon padanya untuk menghentikan langkah 
agar berbicara lebih banyak padaku. Akhirnya ia berhenti dan berkata: "Ibuku, aku telah 



mengatakan bahwa mereka baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan mereka 
alhamdulillah, tetapi jangan membuatku terlambat. Aku memiliki pekerjaan yang sangat 
penting untuk dilakukan. Jika aku melihat mereka lagi aku akan menyampaikan salam 
anda". 

la memberiku ghutrah dan menghiburku: "Hapuslah darahmu Oh Ibu", kemudian ia pergi. 

Kondisi seperti ini terus berlanjut hingga tanggal 12 Desember. Bagaimanapun aku telah 
memutuskan setelah ini bahwa aku akan menguatkan hatiku, percaya pada Allah dan 
melakukan sesuatu untuk Mujahidin. Aku mulai menyibukkan diri untuk memasak makanan 
dan membagi-bagikan minuman di antara para mujahidin Arab. Aku juga membuat perban 
dari tirai rumah, potongan bahan dari sekitar rumah dan mengambil kapas bantal. Kemudian 
aku merawat mujahidin yang terluka di peperangan. Dan alhamdulillah semua yang telah 
aku rawat kembali ke pertempuran. Jumlah mereka lebih dari dua puluh orang. 

Sebelum datang tanggal 12 Desember, yakni pada tanggal 9 Desember - saya yakin, 
sebagaimana aku menghitung hari-hari semenjak aku dipisahkan dari anak-anakku - hari ini 
yahudi menyebar bahan kimia yang sangat kuat di sekitar Falujjah, khususnya di pusat kota. 
Banyak orang syahid sampai senjata kimia itu pun membakar pepohonan dan hewan- 
hewan. Hal ini menambah kesibukan di pusat kota, dalam beberapa jam puluhan mujahidin 
mati syahid. Kemudian sebuah isu menyebar diantara Mujahidin dari sumber yang mana 
sampai sekarang masih belum diketahui. Tapi aku meyakini bahwa hal itu berasal dari 
seorang agen intel penjajah. 

Isu itu mengabarkan bahwa Umar Hadid dan Abdullah Al-Janaabi syahid dalam serangan 
senjata kimia. Kepanikan diantara kelompok-kelompok menyebar di Falujjah, hanya Allah 
yang maha mengetahui. Aku mendengar hal ini dari seorang yang sedangku rawat. 

Namun Umar Hadid dan Abdullah Al-Janaabi menampik rumor itu ketika mereka tiba-tiba 
muncul ditengah-tengah mujahidin di hari itu. Peristiwa ini meningkatkan semangat 
mujahidin dan memberikan kerugian yang besar atas pekerjaan penjajah, hanya Allah yang 
MahaTahu. 



Pertempuran dahsyat 
terus berlangsung 
antara mujahidin dan 
rakyatnya melawan 
aliansi penjajah. Aku 
mendengar berita ada 
puluhan syuhada 
diantara mujahidin. 
Aku memohon pada 
Allah untuk 
menyenangkan mata 
saya suatu hari nanti 
dengan melihat tiga 
putra saya. 

Kemudian, saat pukul 

11 malam tangga 12 

Desember 2004 hari ahad, disana terjadi pertempuran sengit antara mujahidin dan Amerika 

yang mencoba untuk merebut daerah Al-Shuhda'a. Pertempuran terjadi sangat dekat 

dengan rumahku dan aku dapat melihat langit menyala memenuhi api, sebuah 

pemandangan yang tidak akan aku lupakan di sisa hidupku. 




Betapa banyak syuhada yang gugur selama pertempuran ini dan aku mendengar rintihan 
mereka dekat dengan rumahku. Situasi seperti itu berlangsung kira-kira selama 4 jam, 
semenjak pukul 1 1 sampai pukul 3 dini hari, atau kurang sedikit. Selama ini serangan 
Amerika atas daerah ini gagal. Aku keluar menuju pintu rumah dan aku mendengar raungan 
datang dari seorang mujahidin yang terluka. ia mengingat Allah dan ia tidak berhenti 
menyebut laa illaha illaa allah muhammad rasoolulullah. 

Aku bergegas mendekatinya, ternyata dia masih hidup sehingga aku menyeretnya dengan 
segala kekuatan ke dalam rumah. Dia terluka di dada dan wajahnya. Aku bergegas 
membawakan air dan membersihkan wajahnya dan membalut luka-lukanya sampai 
pendarahan berhenti. la menangis dan aku pikir ia menangis karena rasa sakitnya. Setiap 
kali ia menatapku dia akan menangis, sehingga aku katakan padanya: 

"Percayalah pada Allah, lukamu tidak parah Insha Allah, dapat disembuhkan. Menyadari 
bahwa anda baik-baik saja adalah hal yang penting. Subuh semakin dekat, kelompok anda 
akan segera datang kemari, mereka akan membawa mu dan merawatmu. Bagaimanapun 
biarkan aku pergi dan melihat jika kelompokmu masih ada yang hidup atau tidak." 

Kali ini ia mulai menangis lebih keras, seolah-olah ia tidak ingin ditinggalkan seorang diri, 
sehingga aku bertikir mungkin ia merasa bahwa kematiannya sudah dekat dan ia tidak ingin 
mati sendirian. Aku mengatakan bahwa teman-teman yang lain mungkin membutuhkan 
bantuan, aku akan pergi dan kembali secepat mungkin. 




Aku pergi ke jalan raya - setelah menyentakkan abayaku dan mengikatnya di pinggang -. 
Aku memutuskan bahwa aku akan menolong yang terluka terlebih dahulu. Benar aku 
kemudian menemukan seorang korban berikutnya, orang arab. Aku menyeretnya ke dalam 
rumah dan memulai untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengannya. Aku heran 
ketika ia menyebutku dengan sebutan "Oh Amah, Ummu Muheeb". Seolah-olah ia mengenal 
ku padahal biasanya orang-orang memanggil ku dengan Ummu Ahmad. 



Aku menduga ia teman putraku dan mengetahui rumah kami. Dia terluka dari bawah 
pusarnya, semoga Allah merahmatinya dan ususnya keluar menjulur. Dia mengatakan 
kepadaku bahwa semua yang ia inginkan hanya beberapa lumpur dari kebun, garam dan 
perban. Aku memberinya apa yang ia inginkan dan kemudian aku kembali keluar ke jalan. 

Disana aku menemukan dua mayat, terpisah dua rumah dariku. Aku menyeret yang pertama 
dengan sekuat tenaga ke rumah dan meletakkannya di kebun. Lalu aku mengambil sekop 
berniat untuk menggali kuburan untuknya. Dan sungguh aku menggali dengan rentang 
kedalaman seadanya sepanjang dua meter kemudian aku menimbunnya. Aku hanya ingin ia 
terkubur secara darurat sampai keluarganya atau temannya datang untuk memindahkan 
tubuhnya agar dapat menguburkannya lebih tepat sesuai dengan syariah. 

Setelah aku menguburkan yang pertama aku sangat kelelahan karena aku terlalu tua untuk 
menyeret orang yang terluka dan satu jenazah puluhan meter. Namun aku bertawakal 
kepada Allah dan mengatakan pada diriku sendiri. Semoga Allah akan melindungi anak- 
anakku dari kematian, sebagai imbalan atas apa yang telah saya lakukan. 

Aku keluar menuju jalan lagi dan menemukan satu lagi syuhada yang berbadan besar dan 
tinggi. Aku mulai perlahan-lahan menariknya dari kakinya. Setelah beberapa menit 
sampailah aku di kebun rumahku. Di sini aku mulai curiga jika aku mengenali syuhada ini - 
dan kemejanya robek dibagian belakang - juga baunya sangat aku kenali. Saat itu malam 
hari dan sangat gelap, bahkan aku tidak dapat melihat telapak tanganku. Aku berlari menuju 
rumah dan menyalakan sebuah lentera, walaupun sesuatu yang membahayakan untuk 
memancarkan cahaya dari rumah. Hal ini karena pesawat penjajah dapat membom setiap 
menit. 

Ketika aku mendekatkan lentera semakin dekat ke wajah sang syahid yang berlumuran 
darah dan pasir, aku membeku di tempatku seperti tersambar petir. Aku tak mampu 
mengucapkan sepatah katapun. Syuhada yang aku seret kali ini tidak lain adalah Muheeb 
anakku yang kedua!" 

Ummu Asy-Syuhada diam dan tangisnya meledak. 
la berucap: "Wallahi Oh Muheeb kau mematahkan 
kekuatanku, kau dan saudara-saudaramu 
meniggalkanku dan pergi begitu saja". Kemudian 
ia tersadar; "inna lillahi wa innaa ilayhi raaji'oon" 
aku telah merencanakan untuk tidak menangis 
atas mereka dan kali ini adalah ketiga kalinya saya 
menangisi mereka hari ini". 

Kemudian wanita yang terhentak itu melanjutkan 
kisahnya: "Aku mengangkat kepalanya dan dan 
memeluknya, aku menangisinya dan berbicara 
dengannya selama sekitar setengah jam seakan- 
akan ia masih hidup. Aku mengingatnya atas tutur 
katanya yang baik denganku, kenangan ketika ia 
masih kecil dan ia tertidur di pangkuanku. Aku 
membelai lembut rambutnya yang indah sebagai 
mana yang selalu kulakukan. Aku mengatakan 

padanya: "Oh Muheeb, aku adalah ibumu.... tidurlah oh cahaya mataku, tidur dan 

beristirahatlah dari dunia ini. Engkau telah menang!" 

Wallahi! Aku tidak ingin melepaskannya dari pangkuanku. Aku menguburkannya dibawah 
pohon zaitun yang ia cintai dan tempatnya belajar ketika ia masih kecil. Aku membuat 
lubang yang dalam, aku memutuskan bahwa rumahnya akan menjadi makamnya. 




8 




Di pagi hari sekelompok Mujahidin tiba dan aku masih berada di makam Muheeb. Menjaga 
anakku yang syahid seakan-akan ada orang yang hendak menculiknya. Aku menangisinya 
dari malam sampai pagi hingga aku menyadari kedatangan mereka setelah mendengar 
suara mereka di jalan. Aku pergi menemui mereka dan mengenalku. Aku mengetahui bahwa 
mereka adalah teman-teman Ahmad dan Umar. 

Aku bertanya kepada mereka: "Katakan padaku, dimana anak-anakku Ahmad dan Umar?" 

Mereka membungkukkan kepala kebawah dan mengatakan: "Oh bibi, ingatlah mereka 
dengan Allah. Tadi malam Ahmad dan Umar wafat di daerah Nizaal dan kami menguburkan 
mereka di halaman rumah Hajji Khaleel Al-Fiyaad" 

Aku tidak tahu mengapa aku tidak menangis pada saat berita itu sampai. Mungkin karena 

aku telah sangat letih menangisi Muheeb 

atau karena saat itu aku tersentak. Aku 

bertanya pada mereka: "Apakah mereka 

wafat dalam keadaan maju atau mundur di 

medan peperangan?" 

Salah satu dari mereka menjawab: 
"Wallahi, mereka wafat saat maju dan 
mereka menerima pembalasan dendam 
atas mereka sebelum mereka wafat". 

Aku memuji pada Allah dan kemudian aku mengatakan kepada mereka untuk memasuki 
rumah agar mengambil dua orang yang terlukan dengan mereka. Ketika mereka 
memasukinya mereka menemukan satu dari mereka, yaitu yang arab sudah tidak bernyawa. 
Sedangkan yang lainnya masih hidup dan mereka membawanya. Mereka menguburkan 
yang wafat di kebun rumahku. 

Mereka terkesan bahwa aku mampu menggali dua buah kuburan dalam satu jam. Aku 
mengatakan bahwa kuburan di bawah pohon zaitun itu milik anakku Muheeb dan yang lain, 
adalah seorang syuhada yang tidak aku kenali dan ia tidak di kuburkan dengan selayaknya. 
Sehingga aku meminta salah satu dari mereka untuk menguburkannya kembali dan 
membuatkan kuburan yang lebih layak. 

Setelah selesai, mereka memohon kepadaku untuk ikut dengan mereka mencoba keluar 
meninggalkan Fallujah. Aku menolak. Salah satu dari mereka, tampaknya bukan orang lraq 
berkata: "Oh Ibu engkau telah kehilangan tiga putera dan kami semua adalah anak-anakmu. 
InshaAllah Ahmad, Umar dan Muheeb berada di dalam Jannah" 

Kemudian mereka pergi tergesa-gesa dan aku kembali kedalam rumah untuk sholat Dhuha. 
Tiga pertempuran kembali pecah dalam tiga malam berikutnya. Selama waktu itu aku 
mampu menarik empat syuhada lainnya dan menguburkan mereka di kebun rumahku. 
Hingga kini kebun rumah itu terdapat tujuh kuburan para syuhada. Seluruh kebun dan 
rumah dipenuhi dengan aroma misk yang belum pernah aku cium sebelumnya. Aroma ini 
membuat aku merasa senang dan memberikanku kesabaran. 

Aku tidur selama empat malam disamping makam Muheeb dan aku mendapatkan aroma itu 
di kuburnya. Aku tidur dengannya seperti ibu yang menimang anaknya ketika ia sedang 
tertidur. Aku tetap tertahan dirumah dengan para syuhada selam tujuh hari hingga tanggal 
13 Januari 2005, ketika bulan sabit merah masuk dari arah utara atas izin dari penjajah. 



Mereka memaksaku untuk 
pergi dengan mereka ke 
sebuah kamp 
pengungsian di As- 
Saqlaawiya. Disana aku 
mengetahui bahwa 
setelah peperangan para 
pekerja sukarela dari 
Fallujah menggali kuburan 
Muheeb dan teman- 
temannya dan mengambil 
mereka untuk dikuburkan 
kembali dengan saudara- 
saudaranya di pekuburan 
khusus para syuhada. 

Ini adalah kisahku dan aku 
berusaha 
menceritakannya 
meskipun sakit dan pedih. Pula, aku berharap bahwa aku memiliki tiga putra yang akan mati 
demi Allah meskipun betapa berat kesedihanku atas mereka. Sebagai ibumu adalah 
kebanggaan karena ia adalah ibu dari para syuhada. 

Umm Asy-Syuhada mengakhiri ceritanya dengan beberapa bait syair badui yang mampu 
kami tulis. Dia berkata: "Syair untuk para ulama yang selalu memakai surban di kepala 
mereka. Untuk mereka aku mendedikasikan dua syair ini. Aku bertanya kepada mereka. 
Apa yang akan Anda katakan pada hari Anda berdiri di antara penuntut balas dan Maha 
Kuat? 

Bunyi syair beliau seperti ini: 




Kami berharap dengan anda dan berpikir anda akan menyelamatkan kami 

Kami tidak berharap, anda berlalu mencampakkan kami setelah melihat penderitaan ini 

Kami berharap dengan anda ( ) 

Oh ketidakadilan, harapan telah sirna dan pendusta telah muncul 



Demi Allah, Anda telah mematahkan hati kami dan membuat kami berurai air mata. Oh ibu 
para syuhada. Semoga Allah menerima anak-anakmu sebagai syuhada dan mengumpulkan 
kamu dengan mereka di surga tertinggi, Al-Firdaus. Amin. 



** 



TAMAT 



** 



10 



Garis rapuh tergores dikeningnya 

Hanya waktu berpihak 

Jemari mulai kaku menuntut untuk hidup 

Apa daya hanya sisa raja dinanti 



Garis rapuh terlukis di dahinya 
Sang tua berjalan tanpa tandu 
Tiada naung peristirahatannya 
Berlaku sehari setetes semadu 



Garis tua itu Nampak hanyut 

Kusut bertabur peluh 

Setengah perjalanan penguasa pencari buntut 

Acuh setengah hati 



Garis tua itu berontak 

Garis tua itu saksi tirani 

Garis tua itu berteriak 

Mencari upa terselip di ketiak-ketiak sumbi 

Dawlah kini harapan 

Penjajah asa bermuram kelam 

Secercah suria kemenangan 

Menutup lembaran Fallujah dalam temaram 



Buah karya : IMMawan Ahmad Munawir (dengan tambahan editor) 




Perpustakaaii At-Tkuhid wal Jiliad 
http://jahizuna.com 



11